Rabu, 14 November 2012, bertempat di UNS (Universitas
Sebelas Maret), Penulis terkenal yang juga sebagai alumnus UMS (Universitas
Muhammadiyah Surakarta) menyajikan kiat-kiat mempermudah mahasiswa untuk
memulai menulis. Beliau, Bandung Mawardi didampingi Dr. Muhammad Rohmadi, M.
Hum., dalam acara yang bertemakan “Pelatihan Menulis Artikel Pada Media Cetak
Sebagai Pengembangan Softskill Mahasiswa” mengemukakan pentingnya menulis
sebagai bekal mahasiswa dalam pembuatan skripsi karena notabene mahasiswa
dituntut tidak hanya memiliki kemampuan berbicara yang baik tetapi juga
kemampuan menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan yang dapat dipahami oleh
pembaca. Dalam hal ini Bandung Mawardi menuturkan “Jangan pernah menunda untuk
menulis apalagi dengan menyertakan banyak alasan.”
Untuk bisa menjadi penulis yang handal tuturnya
diperlukan latihan dan pantang putus asa terlebih bagi seorang pemula yang
pengetahuan akan tata tulis masih sangat minim dan perlu waktu untuk
meningkatkan pengetahuan. Dalam ceramahnya sebagai nara sumber, beliau juga
menegaskan “Menulis merupakan hal untuk menguji kesabaran, dalam dua jam
misalnya seorang pemula memulai menulis, tetapi hasilnya hanya berupa tulisan
yang mungkin hanya sejumlah sepuluh baris. Jangan anggap bahwa apa yang dilakukan
tersebut, yaitu duduk selama dua jam hanya mendapatkan sepuluh baris sebagai
buang-buang waktu saja.”
Pada acara ini, yang dimulai pukul 13.00 WIB sampai
menuai kelar pukul 17.00 WIB banyak mahasiswa yang mengaku menjadi lebih
percaya diri dalam menuangkan gagasannya. Pasalnya, beliau mengajak mahasiswa
untuk benar-benar bisa menyampaikan gagasan yang ada dalam pikiran menjadi
sebuah tulisan. Dimana dalam menyusun kalimat tentunya dibutuhkan kemamuan olah
kata yang baik. Dalam cara yang diterapkan Bandung Mawardi untuk memancing olah
gagasan mahasiswa yaitu dengan menentukan satu kata. Kata “hujan” misalnya.
Dengan kata “hujan” mahasiswa diperkenankan untuk memikirkan apa saja yang
berkaitan dengan hujan, intinya mahasiswa dituntut untuk memperbanyak kata
“hujan” dalam tulisan yang akan dibuat. Penggunaan satu kata saja menurutnya
menjadi pemicu untuk berpikir banyak hal. Kata “hujan” dapat dihubungkan dengan
asmara, kekuasaan Tuhan, dan juga jalan yang berlubang yang terisi air ketika
hujan turun sehingga mempersulit orang-orang untuk melaluinya. Beliau juga
melatih kepekaan mahasiswa dengan menyuruh mahasiswa untuk menyampaikan gagasan
yang berhubungan dengan kata-kata ampuh yang dijadikan sebagai pedoman dalam
bertindak. Beliau menyarankan supaya mahasiswa menulis mengenai kata tersebut
lalu dijelaskan secara lebih rinci, dalam hal ini juga diperbolehkan untuk
menceritakan dari manakah kata-kata tersebut diperoleh. Mahasiswa juga sangat
antusias untuk mengikuti ceramahnya. Beliau dalam ceramahnya menekankan bahwa
menulis bukan sebagai ajang untuk mencapai ketenaran, popularitas, apalagi
untuk mencari uang. Menulis merupakan cara memberi kepada banyak orang, dengan
menulis maka akan terjalin hubungan antar manusia melalui imajinasi. Apabila
tulisan yang dibuat dibaca banyak orang, maka semakin banyak pula seorang
penulis memberi kepada orang lain. Dalam acara ini, beliau mengajak mahasiswa
untuk berpartisipasi dan memulai menulis.
Acara yang dilaksanakan tepat di aula gedung F FKIP UNS diikuti oleh mahasiswa UNS angkatan 2012 dan
dimeriahkan oleh doorprice berupa buku-buku yang sudah disediakan sebelumnya
oleh nara sumber handal, Bandung Mawardi untuk mahasiswa yang aktif bertanya
dan beraspirasi.
Wujud pentingnya jurnalistik dalam kehidupan mahasiswa,
yaitu adanya kegiatan berupa penulisan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)
sebagai Ilmiah teknis yang membutuhkan kemampuan tulis menulis yang luar biasa.
Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud perhatian terhadap
jurnalistik bagi mahasiswa awal yang belum paham benar mengenai kehidupan
kampus yang tak lepas dari kegiatan tulis-menulis. Kegiatan jurnalistik nantinya
juga dilaksanakan dengan mengikutsertakan mahasiswa lama yang kemungkinan masih
sangat membutuhkan pelatihan tulis-menulis. Dalam hal ini menunjukkan besarnya
perhatian pengajar kampus terhadap anak didiknya guna pencapaian pencerahan
dalam bidang tulis-menulis.
Bandung Mawardi menjelaskan bahwa untuk menulis jangan
sertakan ungkapan “saya ingin menulis”. Tuturnya menulis yang disertai
keinginan hanya sebagai keinginan saja padahal keinginan manusia sangat luar
bisa banyak. Keinginan ini, keinginan itu. Maka untuk menulis hilangkan kata
“ingin” sehingga menjadi “saya menulis”.
Sebagai penulis ternama, beliau menyampaikan bahwa
menulis merupakan ajang untuk membawa manusia kembali pada suasana hening
setelah seharian menemui keramaian dalam aktivitas harian. Menulis mengajak si
penulis untuk teringat pada keheningan. Dimana dalam kondisi dan suasana hening
manusia mampu berpikir bagaimanakah sebenarnya hidupnya dan mampu untuk
teringat pada Tuhan yang mungkin dalam do’anya dan pendekatan pada Tuhan hanya
dalam hitungan menit. Dalam ceramah yang mengasyikkan, penulis ini menyertakan
latar belakang tentang kehidupannya. Selain sebagai penulis pada berbagai media
ternama di Indonesia, baru-baru kemarin beliau juga mengisi seminar
internasional yang diadakan di Bali. Dahsyatnya seminar ini diikuti oleh
sejumlah tiga ratus orang dari tiga puluh tiga negara dunia.
Kehadiran Bandung Mawardi dalam acara ini menjadi
motivator tersendiri bagi para mahasiswa. Dia, seorang yang sudah tidak
diragukan lagi kemampuannya dalam bidang kepenulisan. Kondisi demikian menjadi
momen yang sangat berharga bagi perkembangan selanjutnya mahasiswa dalam
berkiprah pada bidang ini. Banyak hal-hal baru yang didapatkan sebagai buah
keberhasilan ceramahnya. Hal ini sungguh luar biasa.






0 komentar:
Posting Komentar