Selasa, 23 April 2013

Manusia dan Pendidikan


Adakah sesuatu di dunia ini yang dapat dilakukan tanpa pengetahuan? dalam setiap hal yang dilakukan manusia semuanya menuntut adanya pengetahuan. untuk dapat berhitung diperlukan kemampuan menghitung, membaca diperlukan kemampuan. Lalu apakah hubungannya manusia dengan pendidikan. Manusia adalah pembelajar dan belajar dapat dilakukan di mana pun, kapan pun. Yang berbeda adalah jika pendidikan formal diikat oleh adanya aturan, sedangkan pendidikan nonformal tidak ada ikatan aturan, walaupun dalam pendidikan sistem les atau privat masih ada aturan tetapi ini sangat berbeda dengan pendidikan formal. Di mana pun manusia dapat belajar. Ini adalah kebenaran. Ketika kita melihat orang belajar bersepeda kita yang belum dapat bersepeda akan tertarik jiwanya untuk belajar hal serupa. Karena keinginan yang kuat itulah akhirnya kita belajar naik sepeda. Di halaman rumah, di jalan raya sebagai coba-coba karena melihat orang bersepeda di jalan raya walaupun kita baru mulai belajar tetapi sudah ingin belajar di jalan raya. Kapan pun. Ya kapan pun kita bisa belajar. Saat keinginan yang kuat itu ada kapanpun kita akan terus belajar. Malam hari saat kita benar-benar ingin bisa membaca kita tetap belajar. Pagi hari sebelum jam empat sudah bangun untuk belajar membaca.

Tidak semuanya bisa                                                        
Normalnya semua orang dapat mengikuti pendidikan. Tetapi menjadi tidak normal jika kenyataannya tidak dapat mengikuti pendidikan. Banyak hal yang ada di balik ini. mengapa tidak bisa mengikuti pendidikan. Mengapa tidak bisa belajar. Mengapa tidak mau belajar. Begitulah pendidikan. Pendidikan yang bisa ditempuh tetapi banyak yang tidak menempuh juga menjadi pertanyaan. Sebenarnya apakah yang terjadi.

Kendala
Kendala adalah sebuah garis yang memisahkan sesuatu yang bisa dilakukan dengan yang tidak bisa dilakukan. Orang menjadi tidak bisa karena ada kendala. Kendala yang paling buruk adalah dari daam jiwa manusia itu sendiri. Jika tidak ada niat bagaimana mungkin akan terbentuk serangkaian pikiran yang memikirkan akan hal yang diniatkan. Pendidikan yang tidak dapat dilakukan karena tidak ada niat, itulah kendala. Kemudian kendala yang bersifat materi. Dari sisi niat sangat kuat untuk mengikuti pendidikan tetapi apalah jadinya sisi materi sangat jauh dari memungkinkan. Maka itu adalah kendala. Dari sisi fisik. Fisik yang sehat memungkinkan orang untuk melaksanakan apa yang dikehendakinya. Orang sehat bebas menentukan aktivitas, sedangkan orang yang fisiknya tidak sehat dengan segala kekurangan yang ada akan berusaha agar fisiknya terlebih dahulu yang sehat. Dari segi jiwa (sebut rokhani). Manusia yang warasdapat menerima pelajaran dan hal-hal yang membangun. Ia bisa menggunakan otaknya secara benar dan baik. Orang yang tidak sehat rokhaninya (sebut gila) maka tidak dapat menerima pengetahuan apalagi sampai menerapkannya dalam kehidupan. Maka ini juga kendala. Semua kendala yang ada menyebabkan jumlah orang yang dapat mengikuti pendidikan berada pada presentasi tertentu yang pasti tidak bisa mencapai 100%.

Apa yang dipilih
Dari banyaknya kendala yang ada, menentukan yang memang pantas untuk diri sendiri adalah pilihan. Menentukan pilihan tidak mudah, itu benar. Jadi bagi diri kita yang enggan karena tidak ada niat sedangkan sisi lain dapat melakukan pendidikan, maka bertanyalah kepada diri sendiri mengapa saya tidak berniat padahal mungkin di luar diriku banyak yang sisi lain tidak sempurna tapi niat besar dan akhirnya terjun mengikuti pendidikan, renungkan besarnya hasil dan manfaat pendidikan. Materi memang dibutuhkan, pendidikan pun butuh materi. Selagi niat kita besar, maka ambillah niat itu, wujudkanlah, ada jalan untuk bisa melakukannya, ada tangan lain yang akan memberi apa yang kita perlukan dalam pendidikan. Dalam agama Islam Alloh selalu belas kasihan terhadap hamba-hamba yang dekat denganNya, maka dekatkan dengan Alloh, lakukan niat kita, dan yakinlah Alloh akan ada untuk memberikan apa yang kita perlukan. Kesehatan adalah segalanya. Pernah mendengarnya bukan. Ya bisa dibenarkan. Kita yang sehat dapat bekerja, dapat bermain, dapat melakukan apa-apa yang kita mau. Kita yang sakit secara jasmani jika sakitnya tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti pendidikan maka janganlah dipaksakan karena sesuatu yang dipaksakan tidak baik hasilnya. Pendidikan disertai perasaan sakit akan menghambat diri kita untuk secara penuh menyerap apa yang ada dalam pendidikan (pengetahuan, ilmu, pembelajaran). Sedangkan kita yang dari segi mental kurang memadai. Mungkin akibat kerusakan salah satu jaringan otak maka upaya penyembuhan perlu dilakukan. Hasilnya bagaimana nantinya kita tunggu. Jika memang sulit disembuhkan, peran orang lain yang dekat dengan kita sangat diperlukan. Orang terdekat kita perlu mengajari kita sedikit demi sedikit mengenai baca tulis, hitung menghitung. Keduanya sangat dasar dan dibutuhkan. Menyikapi pendidikan yang hakikatnya adalah diperlukan dan dibutuhkan, diri kita sendiri harus bijak. Bijak sebijak mungkin agar tidak dirugikan. Kita bisa karena berusaha. 
Lokasi: Surakarta, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html