Adakah sesuatu di dunia ini yang dapat dilakukan tanpa
pengetahuan? dalam setiap hal yang dilakukan manusia semuanya menuntut adanya
pengetahuan. untuk dapat berhitung diperlukan kemampuan menghitung, membaca
diperlukan kemampuan. Lalu apakah hubungannya manusia dengan pendidikan.
Manusia adalah pembelajar dan belajar dapat dilakukan di mana pun, kapan pun.
Yang berbeda adalah jika pendidikan formal diikat oleh adanya aturan, sedangkan
pendidikan nonformal tidak ada ikatan aturan, walaupun dalam pendidikan sistem
les atau privat masih ada aturan tetapi ini sangat berbeda dengan pendidikan
formal. Di mana pun manusia dapat belajar. Ini adalah kebenaran. Ketika kita
melihat orang belajar bersepeda kita yang belum dapat bersepeda akan tertarik
jiwanya untuk belajar hal serupa. Karena keinginan yang kuat itulah akhirnya
kita belajar naik sepeda. Di halaman rumah, di jalan raya sebagai coba-coba
karena melihat orang bersepeda di jalan raya walaupun kita baru mulai belajar
tetapi sudah ingin belajar di jalan raya. Kapan pun. Ya kapan pun kita bisa
belajar. Saat keinginan yang kuat itu ada kapanpun kita akan terus belajar.
Malam hari saat kita benar-benar ingin bisa membaca kita tetap belajar. Pagi
hari sebelum jam empat sudah bangun untuk belajar membaca.
Tidak semuanya bisa
Normalnya semua orang dapat mengikuti pendidikan. Tetapi
menjadi tidak normal jika kenyataannya tidak dapat mengikuti pendidikan. Banyak
hal yang ada di balik ini. mengapa tidak bisa mengikuti pendidikan. Mengapa
tidak bisa belajar. Mengapa tidak mau belajar. Begitulah pendidikan. Pendidikan
yang bisa ditempuh tetapi banyak yang tidak menempuh juga menjadi pertanyaan.
Sebenarnya apakah yang terjadi.
Kendala
Kendala adalah sebuah garis yang memisahkan sesuatu yang
bisa dilakukan dengan yang tidak bisa dilakukan. Orang menjadi tidak bisa
karena ada kendala. Kendala yang paling buruk adalah dari daam jiwa manusia itu
sendiri. Jika tidak ada niat bagaimana mungkin akan terbentuk serangkaian
pikiran yang memikirkan akan hal yang diniatkan. Pendidikan yang tidak dapat
dilakukan karena tidak ada niat, itulah kendala. Kemudian kendala yang bersifat
materi. Dari sisi niat sangat kuat untuk mengikuti pendidikan tetapi apalah
jadinya sisi materi sangat jauh dari memungkinkan. Maka itu adalah kendala.
Dari sisi fisik. Fisik yang sehat memungkinkan orang untuk melaksanakan apa
yang dikehendakinya. Orang sehat bebas menentukan aktivitas, sedangkan orang
yang fisiknya tidak sehat dengan segala kekurangan yang ada akan berusaha agar
fisiknya terlebih dahulu yang sehat. Dari segi jiwa (sebut rokhani). Manusia
yang warasdapat menerima pelajaran dan hal-hal yang membangun. Ia bisa
menggunakan otaknya secara benar dan baik. Orang yang tidak sehat rokhaninya
(sebut gila) maka tidak dapat menerima pengetahuan apalagi sampai menerapkannya
dalam kehidupan. Maka ini juga kendala. Semua kendala yang ada menyebabkan
jumlah orang yang dapat mengikuti pendidikan berada pada presentasi tertentu
yang pasti tidak bisa mencapai 100%.
Apa yang dipilih
Dari banyaknya kendala yang ada, menentukan yang memang
pantas untuk diri sendiri adalah pilihan. Menentukan pilihan tidak mudah, itu
benar. Jadi bagi diri kita yang enggan karena tidak ada niat sedangkan sisi
lain dapat melakukan pendidikan, maka bertanyalah kepada diri sendiri mengapa saya
tidak berniat padahal mungkin di luar diriku banyak yang sisi lain tidak
sempurna tapi niat besar dan akhirnya terjun mengikuti pendidikan, renungkan
besarnya hasil dan manfaat pendidikan. Materi memang dibutuhkan, pendidikan pun
butuh materi. Selagi niat kita besar, maka ambillah niat itu, wujudkanlah, ada
jalan untuk bisa melakukannya, ada tangan lain yang akan memberi apa yang kita
perlukan dalam pendidikan. Dalam agama Islam Alloh selalu belas kasihan
terhadap hamba-hamba yang dekat denganNya, maka dekatkan dengan Alloh, lakukan
niat kita, dan yakinlah Alloh akan ada untuk memberikan apa yang kita perlukan.
Kesehatan adalah segalanya. Pernah mendengarnya bukan. Ya bisa dibenarkan. Kita
yang sehat dapat bekerja, dapat bermain, dapat melakukan apa-apa yang kita mau.
Kita yang sakit secara jasmani jika sakitnya tidak bisa dipaksakan untuk
mengikuti pendidikan maka janganlah dipaksakan karena sesuatu yang dipaksakan
tidak baik hasilnya. Pendidikan disertai perasaan sakit akan menghambat diri
kita untuk secara penuh menyerap apa yang ada dalam pendidikan (pengetahuan,
ilmu, pembelajaran). Sedangkan kita yang dari segi mental kurang memadai.
Mungkin akibat kerusakan salah satu jaringan otak maka upaya penyembuhan perlu
dilakukan. Hasilnya bagaimana nantinya kita tunggu. Jika memang sulit
disembuhkan, peran orang lain yang dekat dengan kita sangat diperlukan. Orang
terdekat kita perlu mengajari kita sedikit demi sedikit mengenai baca tulis,
hitung menghitung. Keduanya sangat dasar dan dibutuhkan. Menyikapi pendidikan
yang hakikatnya adalah diperlukan dan dibutuhkan, diri kita sendiri harus
bijak. Bijak sebijak mungkin agar tidak dirugikan. Kita bisa karena
berusaha.






0 komentar:
Posting Komentar