Senin, 14 Oktober 2013

PENGAMATAN DI SEKOLAH LUAR BIASA

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Seorang guru dituntut untuk dapat melaksanakan tugasnya secara baik, yaitu tugas mengajar, membimbing, mendidik, dan melatih. Tugas-tugas guru dilaksanakan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, guru dihadapkan pada berbagai tingkat pendidikan, dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Oleh karena itu, ruang lingkup pembelajaran guru juga sangat luas. Ruang lingkup ini antara lain adalah siswa TK (Taman Kanak-Kanak), SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), dan sekolah yang sederajat dengannya.
Dari kondisi yang terdapat pada paragraf di atas, maka seorang guru sudah selayaknya berusaha memahami siswa pada berbagai tingkat pendidikan. Yang dimaksud disini salah satunya adalah siswa-siswa SLB, yaitu siswa-siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Dengan memahami siswa diharapkan kemampuan guru dalam pelaksanakan tugasnya menjadi semakin baik.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berikut rumusan masalah yang saya tuangkan dalam laporan ini:
1.      Bagaimana kondisi umum SLB Negeri Surakarta?
2.      Bagaimana kondisi siswa tuna rungu?
3.      Bagaimana kondisi sisa tuna grahita?
4.      Bagaimana kondisi siswa tuna daksa?
5.      Bagaimana kondisi siswa tuna laras?
C.    TUJUAN
Tujuan pengamatan yang saya lakukan adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui kondisi umum SLB Negeri Surakarta.
2.      Mengetahui kondisi siswa tuna rungu.
3.      Mengetahui kondisi siswa tuna grahita.
4.      Mengetahui kondisi siswa tuna daksa.
5.      Mengetahui kondisi siswa tuna laras.
D.    MANFAAT
1.      Bagi Calon Guru
Laporan ini semoga bermanfaat bagi calon guru untuk menambah wawasan menenai siswa berkebutuhan khusus, khususnya siswa tuna rungu. Tentunya pemahaman calon guru pun akan bertambah sehingga apabila mendapat kesempatan bertemu dengan siswa tuna rungu ia sudah tidak canggung dan ragu, maupun tidak percaya diri.
2.      Bagi Masyarakat Umum
Sebagai anggota masyarakat, kita tinggal dan bersosialisasi dengan banyak manusia yang berbeda-beda. Pengetahuan dan pemahaman mengenai siswa, anak tuna rungu setidaknya diharapkan menambah rasa hormat dan rasa menghargai kepada mereka. 
E.     WAKTU PENGAMATAN
Pengamatan ini penulis laksanakan di SLB Negeri Surakarta pada Rabu 19 Juni 2013.


















BAB II
PEMBAHASAN
A.    SLB NEGERI SURAKARTA
1.      Sekilas tentang SLB Negeri Surakarta
SLB Negeri Surakarta merupakan sub sentra pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus yang pengelolaan sistem manajemen mutu sekolahnya berada di bawah balai pengembangan pendidikan khusus dinas pendidikan propinsi jawa tengah. Sekolah ini didirikan pada 1997 dan berlokasi di Jalan Cocak X Sidorejo Surakarta, Jalan RM. Sahid 111 Surakarta dengan luas saat ini 5090 m2. SLB Negeri Surakarta memiliki semboyan, yaitu beriman (bersih, rapi, indah, dan nyaman).
Jenjang pendidikan SLB Negeri Surakarta, yaitu TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, dan Bengkel Kerja/Kelas Latihan Keterampilan. Jenis layanan pendidikan yang tersedia, yaitu pendidikan anak tuna netra, tuna rungu wicara, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, dan autism. Kegiatan ekstrakurikuler juga bervariasi dalam rangka mengembangkan bakat dan prestasi, antara lain drum band, pramuka, menari (tari modern, tradisional, balet), menyanyi, olahraga, kerohanian, melukis, modeling. Selain itu, di SLB Negeri surakarta juga tersedia terapi wicara, edukasi, okupasi, dan psiko. Terdapat berbagai usaha yang dikembangkan bagi anak lulusan SMALB, yaitu usaha warnet, foto kopi, minimarket, pertukangan, produksi kue, layang-layang, salon kecantikan, gerai lukis, konveksi, dan servis otomotif. 
2.      Visi dan Misi SLB Negeri Surakarta
SLB Negeri Surakarta memiliki visi, yaitu mewujudkan SLB sebagai pembentuk sumber daya manusia anak berkebutuhan khusus yang mandiri dan mampu berperan serta dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan misinya adalah memberi kesempatan bagi semua anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh pendidikan khusus sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki. Membentuk tamatan yang berkepribadian  dan mampu mengembangkan keimanan, pengetahuan  dan ketrampilan yang memadai dalam memasuki kehidupan bermasyarakat. Memperluas jejaring/networking dalam upaya mengembangkan dan mensosialisasikan pendidikan luar biasa.
B.     SISWA TUNA RUNGU
Pengamatan yang saya lakukan di SLB Negeri Surakarta tidak secara menyeluruh. Dalam artian hanya mengamati siswa-siswanya saja. Sebenarnya saya ingin melakukan pengamatan menyeluruh, tetapi karena kondisi belajar mengajar yang sudah di ambang liburan semester, maka pengamatan hanya dapat dilakukan dalam tempo yang sebentar dengan cakupan yang sempit.
1.      Pengertian tuna rungu
Tuna rungu adalah kondisi dimana alat pendengaran kehilangan sebagian maupun seluruh kemampuannya untuk mendengarkan bunyi. Hal ini menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan dalam memahami pembicaraan orang lain yang kemudian menjadikannya sulit berkomunikasi dengan menggunakan bahasa verbal. Kesulitan memahami pembicaraan masih berlangsung walaupun penderita  menggunakan alat bantu dengar untuk membantu pendengarannya.
2.      Karakteristik siswa tuna rungu
Karakteristik tuna rungu dilihat dari beberapa aspek (intelektual, bahasa, sosial, emosi, motorik, fisik) adalah sebagai berikut:
a.      Aspek intelektual
Dalam aspek intelektual, siswa tuna rungu cenderung mengalami kesulitan pada mata pelajaran yang bersifat verbal, tetapi tidak dengan mata pelajaran nonverbal. Sebenarnya hal ini tidak lain karena adanya kesulitan memahami bahasa. Meski demikian, inteligensi siswa tuna rungu pun normal sebagaimana siswa yang tidak memerlukan pendidikan khusus.
b.      Aspek bahasa
Siswa tuna rungu mengalami kesulitan dalam aspek bahasa, cenderung pasif berbicara, kosa kata yang dikuasainya pun sedikit. Dalam berbicara, irama yang digunakan adalah irama monoton, demikian pula dengan gaya bahasanya. Terkadang saat siswa tuna rungu berbicara, suaranya tidak terdengar sama sekali. Mereka menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.
c.       Aspek sosial
1)      Siswa tuna rungu cenderung bergaul dengan yang sepertinya.
2)      Menutup diri dari dunia luar.
3)      Mengalami kesulitan bergaul dengan lingkungan yang lebih luas.
4)      Adanya ketergantungan kepada orang lain karena kesulitan berinteraksi.
5)      Mementingkan diri sendiri. Sebenarnya ini hanya kerena siswa tuna rungu sulit menangkap kehendak, perasaan, dan harapan orang lain.
6)      Pendiam, mudah cemas, sedikit tertawa, rasa percaya diri yang kurang.
d.      Aspek emosi
Dalam aspek ini, siswa tuna rugu mengalami kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Emosinya lekas meluap dan melonjak. Kondisi lekas marah dan tersinggung menandai kesulitan mengendalikan emosi. Hal ini disebabkan karena sukarnya menyampaikan dan memahami perasaan/pembicaraan.
e.       Aspek motorik
Perkembangan gerak siswa tuna rungu tertinggal dari siswa normal seusianya. Tetapi pada alat gerak tangan, siswa tuna rungu lebih cepat dan lincah. Pada alat gerak lain, siswa tuna rungu kurang lincah, ada kecenderungan lebih menyukai duduk daripada bergerak. Kemudian, siswa tuna rungu menyeret kakinya ketika berjalan.
f.        Aspek fisik
Perkembangan fisik siswa tuna rungu tidak bermasalah. Perbandingan tinggi dan berat badannya tidak mengalami kelainan. Kesehatan fisiknya pun normal sebagaimana siswa normal pada umumnya.
C.    SISWA TUNA GRAHITA
1.      Pengertian tuna grahita
Tuna grahita mengacu pada kondisi siswa atau anak didik yang mengalami keterbatasan mental intelektualnya. Ada pula yang menyebut tuna grahita dengan keterbelakangan mental. Siswa tuna grahita memiliki tingkat kecerdasan (skor IQ) di bawah rata-rata, yaitu kurang dari sama dengan 70.
2.      Karakteristik tuna grahita
Siswa tuna grahita menunjukkan karakteristik intelektual, bahasa, sosial, emosi, motorik, dan fisik seperti berikut:
a.      Aspek intelektual
Tingkat kecerdasan yang berada di bawah rata-rata menyebabkan siswa tuna grahita mengalami kekurangan dalam hal baca, tulis, dan hitung. Mereka memiliki prestasi akademik yang rendah atau di bawah siswa normal.
b.      Aspek bahasa
Siswa tuna grahita kurang mampu dalam berbahasa. Sering terjadi kesalahan dalam membuat struktur kalimat. Kekurangmampuan berbahasa mereka sebenarnya merupakan akibat dari kekurangmampuannya dalam mengingat apa yang dilihat dan didengar.
c.       Aspek sosial
Siswa tuna grahita cenderung mudah berinteraksi dengan orang yang lebih muda. Hal ini bukan menunjukkan kemampuannya untuk melindungi, melainkan lebih karena faktor kecerdasan yang di bawah rata-rata. Tingkat kecerdasannya mendorong ia selalu membutuhkan teman di bawah usianya dan membutuhkan pengawasan orang tua. Akibatnya anak tuna grahita seperti mengalami kesulitan untuk mandiri dan mengalami ketergantungan terhadap orang yang lebih tua.
d.      Aspek emosi
Emosi siswa tuna grahita tidak seperti siswa tuna rungu. Siswa tuna grahita cenderung mudah terpengaruh. Mereka tidak mampu untuk mempertahankan persepsinya.
e.       Aspek motorik
Gerak/motorik siswa tuna grahita mengalami hambatan. Ia tidak mampu bergerak lincah sebagaimana anak normal seusianya. Perkembangan motoriknya lebih lambat dari anak normal pada umumnya.
f.        Aspek fisik
Siswa penyandang tuna grahita pada umumnya tidak menampakkan adanya kelainan fisik.
D.    SISWA TUNA DAKSA
Tuna daksa adalah keadaan dimana fungsi anggota tubuh (alat gerak) tidak optimal karena luka, penyakit, maupun pertumbuhan yang tidak normal, terjadi kelainan pada tulang, sendi, dan saraf penggerak otot tubuh.
Karakteristik siswa tuna daksa, antara lain:
1.      Aspek kognitif
Kecerdasan siswa tuna daksa bervariasi. Ada penderita yang mengalami kesulitan dalam hal kecerdasan/intelektual, ada pula yang tidak.
2.      Aspek afektif
Dalam hal perasaan dan sosial, siswa tuna daksa cenderung merasa rendah diri, yang kemudian mengganggu interaksi sosialnya dengan lingkungan.
3.      Aspek bahasa
Dalam hal berbahasa, kebanyakan siswa tuna daksa tidak mengalami kekurangan. Mereka mampu berbicara secara baik dan benar.
4.      Aspek motorik
Aspek motorik siswa tuna daksa mengalami kesulitan disebabkan adanya keberfungsian tidak optimal pada anggota tubuhnya, tulang, sendi maupun otot.
5.      Aspek fisik
Siswa tuna daksa mengalami kelainan fisik pada alat geraknya, misalnya pada tulang, persendian, dan otot sehingga secara fisik ia mengalami kekurangan, atau terdapat salah satu anggota geraknya yang tidak berfungsi secara optimal.
E.     SISWA TUNA LARAS
Tuna laras adalah kelainan tingkah laku yang menyebabkan penderitanya kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Siswa tuna laras memiliki karakteristik yang khas. Antara satu siswa dengan siswa lainnya memiliki perbedaan karakteristik. Ada siswa tuna laras yang mengalami gangguan perilaku, gangguan kecemasan, gangguan kurang dewasa, dan gangguan berlebihan dalam bersosialisasi.
Karakteristik siswa tuna laras, antara lain:
1.      Aspek kognitif
Siswa penderita tuna laras umumnya memiliki hasil belajar yang rendah. Mereka tidak pandai dalam hal akademik. Kemudian adakalanya mereka yang mengalami gangguan perilaku menunjukkan sikap tidak minat terhadap kegiatan sekolah, seperti membolos, melanggar peraturan, dan membuat onar. Siswa yang mengalami gangguan kecemasan menunjukkan sikap mudah frustasi, bimbang, dan tertekan. Siswa yang mengalami gangguan kurang dewasa menunjukkan sikap kaku, pasif, dan mudah bosan. Siswa yang mengalami gangguan berlebihan dalam bersosialisasi menunjukkan sikap suka membolos sekolah, dan berbuat semaunya.
2.      Aspek emosi
Emosi siswa tuna laras bervariasi. Terjadi kecenderungan emosi tertentu pada siswa tuna laras. Ada siswa yang mudah marah. Ada siswa yang pendiam dan cenderung pasif. Ada siswa yang pendiriannya mudah dipengaruhi dan pasif sehingga menjadi kalahan. Ada siswa yang senang mempengaruhi teman-temannya untuk berbuat buruk, nakal, melanggar.
3.      Aspek sosial
Dalam hal bersosialisasi siswa tuna laras mengalami kesulitan. Adakalanya diantara mereka masih mampu bersosialisasi secara menyenangkan, tetapi kebanyakan tidak mampu. Siswa tuna laras berteman dalam lingkup yang sempit, misalnya dengan kelompoknya, keluarganya saja. Siswa tuna laras yang mengalami gangguan kecemasan juga mengalami kesulitan bersosialisassi karena ia pendiam dan pasif. Demikian pula dengan siswa tuna laras yang kurang dewasa, dikarenakan ia lebih sering melamun, mengantuk, dan mudah bosan.
4.      Aspek fisik
Siswa tuna laras mengalami gangguan fisik, seperti gangguan makan, tidur, dan mengompol. Gangguan ini bukan gangguan yang secara nyata mempengaruhi fungsi alat gerak menjadi kurang optimal.
 










BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Dari pengamatan yang telah penulis lakukan, penulis mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya manusia itu unik, memiliki keberagaman yang berbeda-beda antar satu dengan lainnya. Demikian pula di SLB (Sekolah Luar Bias) yang siswanya terdiri dari siswa yang memiliki kelebihan dan kekurangan yang bervariasi. Tetapi, kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada siswa bagaimanapun juga perlu mendapatkan pendidikan sehingga kelak dikemudian hari siswa yang bersangkutan mampu menjadi anggota masyarakat dan berperan sebagaimana mestinya.
B.     SARAN
Saran yang dapat penulis berikan kepada calon guru adalah tetaplah belajar dan belajar untuk menambah pengetahuan dan pemahaman terhadap peserta didik karena nantinya calon guru akan berhadapan dengan siswa-siswa/peserta didik yang unik dan beragam karakteristiknya.

Selanjutnya saran bagi siswa-siswa yang sedang belajar adalah percayalah bahwa dengan belajar akan memunculkan berbagai hal yang baru yang berguna bagi kehidupan di masa yang akan datang.

0 komentar:

Posting Komentar

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html