Tidak ada
salahnya jikalah dalam menjalankan pendidikan diperlukan adanya reward and
punisment. Hal ini akan sangat bermanfaat jika dilaksanakan secara serius.
Bagaimana tidak, dalam kehidupan sekolah diperlukan adanya kedisiplinan guna
menjaga keharmonisan dan kehidupan yang teratur. Bukan semata-mata untuk
mengendalikan dan mengkukung semua penghuni sekolah tetapi lebih kepada
pengajaran hidup disiplin waktu dan aturan. Apabila terdapat sebuah aturan maka
reward dan punisment yang ada dalam aturan tersebut setidaknya tidak untuk
dilanggar. “Aturan ada untuk dilanggar” marak bukan tulisan dan slogan seperti
ini. Apakah memang sudah menjadi budaya bahwa adanya aturan untuk dilanggar,
jadi kalau aturan ditepati itu justru salah dan tidak menarik. Sungguh pandangan
yang keliru. Ya, inilah penghambat keteraturan, inilah ketetapan yang sering
terjadi di dunia pendidikan. Iming-iming karena kasihan, karena toleransi,
karena jiwa manusia. “Dia sudah melakukan pelanggaran, tetapi kenapa tidak
ditetapkan sanksi atas tindakannya”, jawabannya “Saya masih memiliki jiwa
kemanusiaan, maka pantaslah bagi saya untuk tidak menghukumnya”. Semata-mata
mengedepankan manusia. Memang manusia untuk didepankan, tetapi apakah benar
membiarkan manusia tetap pada keadaan yang buruk yang senang menghadapi
tindakan melanggar, benarkah membiarkan manusia berada dalam ketidakbaikan,
lalu apakah keadaan demikian akan terus berlanjut sepanjang keberadaan manusia.
Berikut ada
sebuah cerita mengenai seorang kepala sekolah SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta,
Pak Sutarno.
Saat itu
kondisi sekolah masih sangat sederhana. Pak Tris pun mengajak semua guru untuk
merumuskan sejumlah langkah terobosan untuk membuat perubahan besar di sekolah.
Salah satu hasil musyawarah yang disepakati adalah pentingnya penerapan
disiplin bagi semua warga sekolah. Bagi guru, kepala sekolah, maupun staf tata
usaha yang terlambat, dikenai hukuman berlari di halaman sekolah dan disaksikan
para murid.
Sebelum
kesepakan itu dibuat, Pak Tris sebagai kepala sekolah hampir tidak pernah
terlambat, meskipun harus menempuh perjalanan puluhan kilometer. Ketika ia
sengaja terlambat, tak ada seorang pun guru atau staf tata usaha yang menghukum
Pak Tris. Tetapi Pak Tris sebagai kepala sekolah tetap konsisten mematuhi
kesepakan rapat. Ia pun berlari di halaman sekolah disaksikan oleh para murid
dan guru-guru. Ketika jam istirahat, Pak Tris menanyakan kepada guru dan staf
tata usaha, mengapa ia tidak dihukum. Para guru dan staf tata usaha pun
menyampaikan kalau mereka tidak enak harus menghukum pimpinan mereka sendiri.
“Terima kasih
jika bapak dan ibu merasa tidak enak untuk menghukum saya. Tetapi mohon
diketahui bahwa sikap seperti itulah yang selalu menghambat perubahan. Karena
menjadi tidak komit dan konsisten dengan kesepakan kita. Karena bapak dan ibu
tidak menghukum saya, maka saya menghukum diri saya sendiri,” Begitulah kurang
lebih yang disampaikan Pak Tris kepada guru dan staf tata usaha ketika itu.
Dengan
pelaksanaan reward and punisment secara adil, Pak Tris telah sukses menghijrahkan
SD Muhammadiyah Sapen dari kondisi sangat memprihatinkan menjadi berpredikat
sangat membanggakan. Bahkan sekarang, setiap bulannya sekolah ini selalu
menerima tidak kurang dari 20 rombongan tamu studi banding dari seluruh
Indonsia.
Apakah
dalam pandangan kita semua masih ada manfaatnya jika tetap mempertahankan
budaya lama tanpa ada perubahan kepada kebaikan. Bukankah dengan menjalankan
semuanya berdasarkan aturan yang ada akan sangat mudah dalam pengadministraian
segala unsur dan komponen pendidikan. Setiap manusia dapat berubah dan tidak
ada salahnya jika kita berubah mulai dari yang terkecil, mulai sekarang dan
mulai dari yang kita bisa. Maka kesimpulannya adalah bahwa kedisiplinan adalah
rahasia mencapai perubahan-perubahan positif.






0 komentar:
Posting Komentar