Aisyah menangis dalam shalatnya.
Diam tapi pasti bacaan Al-Qur’an dalam shalatnya sanggup meruntuhkan dan menggetarkan
keangkuhan dimensi kemanusiaannya. Aisyah adalah salah satu dari sekian banyak
sahabat Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam yang mampu mewarisi teladan
beliau, menangis saat membaca Al-Qur’an.
Tidak hanya Aisyah, Umar bin
Khattab, sahabat yang sangat pemberani dan berinngas, tunduk dan tersungkur
ketika membaca dan atau mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika menjadi
imam shalat Subuh dan membaca surat Yusuf, matanya sembab dan airmatanya pun
keluar hingga membasahi tulang selangkangnya. Saat belum masuk Islam, ketika
Umar mendengar adiknya membaca Al-Qur’ania merasakan kesejukan tersendiri.
Demikian juga Ibnu Abbas.
Abu Bakar berkata, “Semestinya
memang begitu, yakni menangis mengucurkan airmata ketika kalian membaca atau
mendengar Al-Qur’an dibacakan, sampai hati-hati kalian menjadi lembut karena
merasakan sentuhan lembut darinya. Al-Qur’an terlalu agung dan berharga jika
dibandingkan dengan hilangnya kewarasan akal manusia sekalipun.”
Tentunya, tidak setiap orang bisa
merasakan sentuhan lembut Al-Qur’an dan menangis tersedu sedan, apalagi jika
ilmu kita tentangnya tidak berbanding lurus dengan azzam kuat untuk bisa
memahaminya. Orang yang bisa merasakan sentuhan Al-Qur’an adalah orang yang
hatinya terbebas dari kepicikan pikiran, kotoran hati, dan hal-hal lain yang
membuat hati manusia berdebu.
3 amalan rutin yang berhubungan
dengan Al-Qur’an:
Satu, membiasakan diri membaca
Al-Qur’an, minimal sehari tamat satu jus sehingga selama sebulan bisa khatam.
Dua, membiasakan menghapal
Al-Qur’an, minimal sehari satu, dua, tiga ayat secara terus menerus. Tidak ada
waktu terlewat tanpa menambah jumlah hapalan.
Tiga, membiasakan merenungkan,
memahami, dan mengaplikasikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.






0 komentar:
Posting Komentar